"ANAK SEMUA BANGSA"
Judul : Anak Semua Bangsa
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Halaman : 539
Penerbit : Lentera Dipantara
Pada buku tetralogi yang kedua adalah Anak Semua Bangsa yang melanjutkan pada buku tetralogi Bumi Manusia. Pada buku ini lebih menceritakan kepada kisah hidup Minke dan keluarganya yang memperoleh perlakuan tidak adil dari Belanda dan ketidakadilan lain yang mulai terbongkar dihadapan Minke. Annalies (istri minke) meninggal dunia saat dibawa ke nederland. Dengan perawatnya yaitu Jan Dapperste atau Pandji Darman. Pandji merawat Annalies sampai meninggal. Nyai ontosoroh menenangkan Minke agar minke terlepas atas dukacita ditinggalkannya Annalies. Dan pada saat itu kehidupan Minke berjalan tanpa Annalies.
Minke membereskan surat-surat dan barang-barang Annalies, tiba-tiba Minke menemukan surat cemburu dari Robert Suurhorf. Dan mengembalikan hadiah pernikahan dari Robert Suurhorf kepada keluarganya akan tetapi bapak Robert menolak, dan akhirnya hadiah tersebut dibawa ke polisi dengan alasan itu hasil curian.
Jean Marais adalah seorang seniman prancis, dia meminta Minke agar menulis dalam bahasa Melayu, agar tidak selalu menggunakan bahasa Belanda, dan agar masyarakat pribumi bisa membaca dan memahami karyanya. Pada suatu hari Minke disuruh oleh atasannya di S.N. v/d D., Martin Nijman untuk mewawancarai seorang pemuda cina yang aktivis dan berjiwa nasionalisme yang datang ke wonokromo bernama Khoe Ah Soe dengan menggunakan bahasa inggris. Perkenalan Khoe Ah Soe merupakan hal yang penting bagi kehidupan Minke. Dari banyak cerita tentang [pergerakan kaum terpelajar yang dia dengar di luar negeriyang membuat bersemangat. Di Filiphina dan Cina yang membuat termotivasi dan dari revolusi prancis yang sangat dikagumi. Dan dia mengira bahwa kehidupan kaum muda itu bergerak dan bisa membawa perubahan. Akan tetapi ketika surat kabar wawancara yang dirilis oleh Nijman tersebut, bersama Khoe Ah Soe terbit sangat berbeda dengan hasil yang dia lakukan. Denga terbitan yang beriisi bahwa Khoe Ah Soe diburu polisi Hindia atas tuduhan Penyeludupan secara illegal. Dan dikabarkan Khoe Ash Soe menjadi buronan. Nyai Ontosoroh dan Minke Melindungi Khoe di rumahnya dan dengan bantuan darsam. pada hal ini Minke menerima kenyataan atas nasehat Nyai Ontosoroh, bahwa Eropa itu Licik!!
Sampai akhirnya Khoe Ah Soe dengan pemberitaan-pemberitaan tersebut mebuat Khoe tidak bisa bertahan lama hingga Khoe Ah Soe meninggal dunia atas penderitaan tersebut.
Kepercayaan Minke akan belanda yang dulu samngat dibangga-banggakan sekarang sudah mulai rapuh. Minke berusaha untuk lebih mengenal bangsanya. Pada saat dia pergi dari wonokromo dan bertempat tinggal semntara dengan seorang petani yang bernama Truonodongso. Dengan ini Minke lebih mengenal tentang pribumi yang sengsara dengan kolong-kolong Kolonialisme Belanda. Pertemuan minke dengan Trunodongso membuat matanya semakin terbuka akan kehidupan pribuminya yang sangat terimpit akan adanya kolonialisme. Trunodongso adalah seorang petani yang memiliki anak dengan kehidupan sulit diakibatkan oleh pabrik gula pada masa itu dan tanah-tanahnya semakin berkurang hanya karena pabrik gula tersebut. Minke yang tinggal bersama keluarga Trunodongso sangat jelas melihat dan merasakannya deng kehidupan-kehidupan kolonial yang membuat pribumi sulit dalam keadaan kehidupan. Minke menulis sebuah catatan beriisi tentang keluarga Trunodongso dan dengan niat akan dipublikasikan di dalam koran SN/VD. Akan tetapi dengan publikasi tentang kabar ini membuat terganggu dalam pabrik gula dan juga koran tersebut masih ada terkaitan dengan perusahaan gula.
Nyai Ontosoroh dan Minke kembali ke wonokromo dan mendapat kabar dari Darsam tentang Khoe Ah Soe bahwa beliau sudah meninggal dunia. Dan khoe juga menitipkan surat kepada Minke untuk diberikan kepada seorang gadis di Betawi. Minke dan Nyai Ontosoroh sangat tidak percaya akan orang baik dan pintar seperti Khoe Ah Soe yang pergi untuk selama-lamanya. Pada saat itu juga Minke berencana menerbitkan tulisannya tentang Tronodongso. Akan tetapi Nijman menolak karena Nijman yang menghindari berita dengan memperjelek tentang gula.
Minke memutuskan pergi ke semarang untuk menemui seorang jurnalis bernama Ter Haar untuk berdiskusi tentang kelicikan belanda. Pada saat min ke ingin pergi ke kantor koran di semarang, tiba-tiba tidak jadi dan Minke harus segera pulang ke wonokromo untuk kembali ke rumah Nyai Ontosoroh.
Pada saat kembali ia bertemu dengan Nyai Ontosoroh di Wonokromo, Minke diberitahu bahwa anak lain Nyai Ontosoroh yaitu Robert sudah meninggal dan memiliki sebuah anak dengan gadis bernama Minem. Dengan pulangnya Minke disambut dengan datangnya Ir. Maurits Mallema yaitu saudara tiri Annalies dan pemegang perwaliannya. Selama dengan meninggalnya Annalies yang terbunuh warga sampai saat ini belum mengetahuinya. Yang membunuh adalah Mallema saudara tirinya sendiri. Akan tetapi warga semua menghina Mallema.
Judul : Anak Semua Bangsa
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Halaman : 539
Penerbit : Lentera Dipantara
Pada buku tetralogi yang kedua adalah Anak Semua Bangsa yang melanjutkan pada buku tetralogi Bumi Manusia. Pada buku ini lebih menceritakan kepada kisah hidup Minke dan keluarganya yang memperoleh perlakuan tidak adil dari Belanda dan ketidakadilan lain yang mulai terbongkar dihadapan Minke. Annalies (istri minke) meninggal dunia saat dibawa ke nederland. Dengan perawatnya yaitu Jan Dapperste atau Pandji Darman. Pandji merawat Annalies sampai meninggal. Nyai ontosoroh menenangkan Minke agar minke terlepas atas dukacita ditinggalkannya Annalies. Dan pada saat itu kehidupan Minke berjalan tanpa Annalies.
Minke membereskan surat-surat dan barang-barang Annalies, tiba-tiba Minke menemukan surat cemburu dari Robert Suurhorf. Dan mengembalikan hadiah pernikahan dari Robert Suurhorf kepada keluarganya akan tetapi bapak Robert menolak, dan akhirnya hadiah tersebut dibawa ke polisi dengan alasan itu hasil curian.
Jean Marais adalah seorang seniman prancis, dia meminta Minke agar menulis dalam bahasa Melayu, agar tidak selalu menggunakan bahasa Belanda, dan agar masyarakat pribumi bisa membaca dan memahami karyanya. Pada suatu hari Minke disuruh oleh atasannya di S.N. v/d D., Martin Nijman untuk mewawancarai seorang pemuda cina yang aktivis dan berjiwa nasionalisme yang datang ke wonokromo bernama Khoe Ah Soe dengan menggunakan bahasa inggris. Perkenalan Khoe Ah Soe merupakan hal yang penting bagi kehidupan Minke. Dari banyak cerita tentang [pergerakan kaum terpelajar yang dia dengar di luar negeriyang membuat bersemangat. Di Filiphina dan Cina yang membuat termotivasi dan dari revolusi prancis yang sangat dikagumi. Dan dia mengira bahwa kehidupan kaum muda itu bergerak dan bisa membawa perubahan. Akan tetapi ketika surat kabar wawancara yang dirilis oleh Nijman tersebut, bersama Khoe Ah Soe terbit sangat berbeda dengan hasil yang dia lakukan. Denga terbitan yang beriisi bahwa Khoe Ah Soe diburu polisi Hindia atas tuduhan Penyeludupan secara illegal. Dan dikabarkan Khoe Ash Soe menjadi buronan. Nyai Ontosoroh dan Minke Melindungi Khoe di rumahnya dan dengan bantuan darsam. pada hal ini Minke menerima kenyataan atas nasehat Nyai Ontosoroh, bahwa Eropa itu Licik!!
Sampai akhirnya Khoe Ah Soe dengan pemberitaan-pemberitaan tersebut mebuat Khoe tidak bisa bertahan lama hingga Khoe Ah Soe meninggal dunia atas penderitaan tersebut.
Kepercayaan Minke akan belanda yang dulu samngat dibangga-banggakan sekarang sudah mulai rapuh. Minke berusaha untuk lebih mengenal bangsanya. Pada saat dia pergi dari wonokromo dan bertempat tinggal semntara dengan seorang petani yang bernama Truonodongso. Dengan ini Minke lebih mengenal tentang pribumi yang sengsara dengan kolong-kolong Kolonialisme Belanda. Pertemuan minke dengan Trunodongso membuat matanya semakin terbuka akan kehidupan pribuminya yang sangat terimpit akan adanya kolonialisme. Trunodongso adalah seorang petani yang memiliki anak dengan kehidupan sulit diakibatkan oleh pabrik gula pada masa itu dan tanah-tanahnya semakin berkurang hanya karena pabrik gula tersebut. Minke yang tinggal bersama keluarga Trunodongso sangat jelas melihat dan merasakannya deng kehidupan-kehidupan kolonial yang membuat pribumi sulit dalam keadaan kehidupan. Minke menulis sebuah catatan beriisi tentang keluarga Trunodongso dan dengan niat akan dipublikasikan di dalam koran SN/VD. Akan tetapi dengan publikasi tentang kabar ini membuat terganggu dalam pabrik gula dan juga koran tersebut masih ada terkaitan dengan perusahaan gula.
Nyai Ontosoroh dan Minke kembali ke wonokromo dan mendapat kabar dari Darsam tentang Khoe Ah Soe bahwa beliau sudah meninggal dunia. Dan khoe juga menitipkan surat kepada Minke untuk diberikan kepada seorang gadis di Betawi. Minke dan Nyai Ontosoroh sangat tidak percaya akan orang baik dan pintar seperti Khoe Ah Soe yang pergi untuk selama-lamanya. Pada saat itu juga Minke berencana menerbitkan tulisannya tentang Tronodongso. Akan tetapi Nijman menolak karena Nijman yang menghindari berita dengan memperjelek tentang gula.
Minke memutuskan pergi ke semarang untuk menemui seorang jurnalis bernama Ter Haar untuk berdiskusi tentang kelicikan belanda. Pada saat min ke ingin pergi ke kantor koran di semarang, tiba-tiba tidak jadi dan Minke harus segera pulang ke wonokromo untuk kembali ke rumah Nyai Ontosoroh.
Pada saat kembali ia bertemu dengan Nyai Ontosoroh di Wonokromo, Minke diberitahu bahwa anak lain Nyai Ontosoroh yaitu Robert sudah meninggal dan memiliki sebuah anak dengan gadis bernama Minem. Dengan pulangnya Minke disambut dengan datangnya Ir. Maurits Mallema yaitu saudara tiri Annalies dan pemegang perwaliannya. Selama dengan meninggalnya Annalies yang terbunuh warga sampai saat ini belum mengetahuinya. Yang membunuh adalah Mallema saudara tirinya sendiri. Akan tetapi warga semua menghina Mallema.