Resensi Buku Pramoedya Ananta "Bumi Manusia"

“BUMI MANUSIA”
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Halaman : 535
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : 17 Januari 2011
Bumi Manusia adalah buku pertama tentang Tetralogi yang ditulis oleh sebuah sastrawan yang terpopuler diindonesia pada zamannya adalah Pramoedya Ananta Toer. Buku ini ditulis ketika beliau ada di penjara pulau buru pada tahun 1975. Pada Buku ini adalah karya yang begitu bagus pada kalangan pada zaman tersebut, di dalamnya begitu banyak pesan yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Pramoedya Ananta Toer membuat ceritanya mengalir dengan berbagai konflik yang monumental. Pada Buku yang pernah saya baca memang tidaklah banyak, tapi dari dalam perjalanan pengalaman saya dalam membaca buku ini, baru kali ini saya merasa benar-benar merasakan jatuh cinta pada buku ini. Alur ceritanya begitu menarik untuk di ikuti, keadaan masyarakat pada masa pemerintahan Hindia Belanda ia gambarkan dengan begitu jelas. Berbagai permasalahan ia tuliskan dengan jelas hampir tanpa celah. Dalam tulisannya sendiri ia mengisahkan tentang kisah cinta antara seorang pribumi dengan gadis Indo keturunan Belanda.
       Minke, seorang pribumi yang mempunyai pola pikir layaknya seperti seorang Eropa, tetapi dia memang bukanlah keturunan pribumi biasa, Dengan maksud keturunan ningrat terbukti ia siswa H.B.S (Hogere Burger School) untuk masuk ke H.B.S. Kalau dia seperti totok (Orang Eropa asli) atau biasanya indo (campuran), maka dari itu minke bukanlah sosok keturunan pribumi biasa. Terkadang minke sudah hampir bukan seorang jawa, hanya tubuhnya saja yang seperti orang jawa tetapi semua pandangannya tentang hidup sudah benar-benar seperti pandangan seorang Eropa. Dia adalah seorang pemuda yang cerdas, penyuka sastra, berbeda dengan pemuda lain. Annelis Mellema, gadis yang begitu cantik, bahkan dalam buku ini kecantikannya melebihi kecantikan dari Ratu Nederland pada saat itu. Dia merupakan putri dari seorang Nyai, bukan seorang Nyai biasa, bukan hanya seorang yang seringkali dianggap menjijikkan. Dia merupakan putri dari seorang ibu yang luar biasa, seorang ibu yang begitu mampu mengurusi banyak pekerjaan setelah Tuan Mellema. Annelis lebih memilih untuk menjadi seorang pribumi seperti ibunya, walaupun ayahnya merupakan seorang belanda.
       Dalam buku ini Pramoedya menunjukkan betapa pentingnya belajar, dengan belajar, bisa dapat mengubah nasib, seperti dalam buku ini. Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S Minke. Bahkan pengetahuan si Nyai yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah H.B.S.
Pramoedya menuliskan kisah ini dengan sangat indah, kata-kata puitis bertebaran disana-sini. Berbagai konflik terjadi, permasalahn disana-sini. Semua ia gambarkan dengan nyata. Kisah dimulai dengan keseharian Minke, seorang Siswa H.B.S dengan berbagai kegiatannya, kemudian digambarkan berbagai situasi pada masa itu. Keseharian masyarakat pada masa itu. Semua diceritakan oleh Pramoedya dengan begitu cerdas. Pada suatu waktu, Minke diajak oleh temannya Robert Surhof untuk datang ke rumah temannya di Wonokromo. Minke pernah mendengar berita-berita tentang keberadaan satu keluarga yang punya perusahaan besar di Wonokromo itu. Orang kampung terkadang menyebutnya sebagai Nyai Ontosoroh. Pemilik dari perusahan bernama Boerderij Boeitenzorg, Nyai menyukai kekuatan yang membuat tuannya sendiri bertekuk lutut padanya. Selain itu Nyai juga mempunyai pengawal yang begitu menyeramkan yang bernama Darsam. Saat itu Minke ketakutan memikirkan hal itu, tetapi tiba-tiba ada kereta kuda merak yang berhenti di depan gerbang sebuah rumah megah, lalu Robert Surhof mengajak turun. Minke pun berfikir, inikah sebuah rumah Nyai Ontosoroh, Robert Surhof akan tidak peduli tentang adanya berita itu karena minke seorang yang bertotok, belanda tulen dan tidak pernah peduli dengan apa yang dibicarakan oleh para pribumi. Mereka berdua masuk, dan disinilah kisah cinta ini dimulai dengan banyak konflik yang rumit dan menegangkan.
         Meskipun buku ini memuat kisah cinta, tetapi buku ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi cengeng karena sesuatu yang bernama Cinta. Buku ini membuat saya berapa pada masa-masa itu dan merasakan peristiwa yang terjadi. Yang membuat kita tahu tentang kehidupan pada masa Hindia-Belanda. Buku ini sesungguhnya memuat semua hal yang sering terjadi pada akhir abad 19 dan menjelang abad 20. Dengan Pemikiran-pemikiran untuk keadilan para pribumi, sikap masyarakat, strata sosial, Dan semuanya terbalut dengan indah dalam kisah cinta yang terjalin antara Minke dan Annelis pada masa itu. Meskipun dengan akhir cerita yang menyedihkan.
        Buku ini bagus dibaca untuk kalangan remaja, mahasiswa, dan orang dewasa. Karena pada buku ini bnyak bahasa-bahasa yang cukup tinngi di dengar dan butuh pemahaman yang besar. Tapi dalam isi ceritanya memang benar-benar bagus.